<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Ahlussunnahcianjur's Weblog</title>
	<atom:link href="http://ahlussunnahcianjur.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ahlussunnahcianjur.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Fri, 25 Jul 2008 09:29:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ahlussunnahcianjur.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Ahlussunnahcianjur's Weblog</title>
		<link>http://ahlussunnahcianjur.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ahlussunnahcianjur.wordpress.com/osd.xml" title="Ahlussunnahcianjur&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://ahlussunnahcianjur.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Bagi yang Suka Ramalan Bintang</title>
		<link>http://ahlussunnahcianjur.wordpress.com/2008/07/25/bagi-yang-suka-ramalan-bintang/</link>
		<comments>http://ahlussunnahcianjur.wordpress.com/2008/07/25/bagi-yang-suka-ramalan-bintang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jul 2008 08:12:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ahlussunnahcianjur</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akidah]]></category>
		<category><![CDATA[Add new tag]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahlussunnahcianjur.wordpress.com/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[Astrologi Dalam Islam Bagi teman teman yang suka  dengan ramalan bintang,saya tampilkan artikel yang saya ambil dari www.darussalaf.or.id,selamat membaca Astrologi Dalam Islam Penulis: Al Ustadz Ahmad Hamdani “Motivasi yang menggebu-gebu untuk mengejar tujuan sangat membantu karier atau studi. Kali ini adalah peluang baik untuk memulai obsesi yang terpendam selama ini. Buatlah kesempatan.” Tunggu dulu! Jangan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahlussunnahcianjur.wordpress.com&amp;blog=4312970&amp;post=16&amp;subd=ahlussunnahcianjur&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Astrologi Dalam Islam</p>
<div>Bagi teman teman yang suka  dengan ramalan bintang,saya tampilkan artikel yang saya ambil dari www.darussalaf.or.id,selamat membaca</div>
<div><strong><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Astrologi Dalam  Islam</span></span></strong></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Penulis: Al  Ustadz Ahmad Hamdani</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">“Motivasi yang  menggebu-gebu untuk mengejar tujuan sangat membantu karier atau studi. Kali ini  adalah peluang baik untuk memulai obsesi yang terpendam selama ini. Buatlah  kesempatan.”</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Tunggu dulu!  Jangan terburu-buru saudara menyangka saya mengetahui masa depan dan aktivitas  saudara terutama bagi saudara yang terlahir pada tanggal 23 Oktober &#8211; 21  November atau seringnya orang menyebut saudara berbintang Scorpio. Akan tetapi  kalimat di atas adalah secuplik kalimat ramalan astrolog yang kami ambil dari  sebuah koran ternama di kota pelajar dalam rubrik  perbintangan.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Dilihat dari nama  rubriknya, dapat diketahui bahwa dasar pemikiran para astrolog atau yang sejalan  pemikirannya dengan mereka adalah letak dan konfigurasi bintang-bintang di  langit. Misalnya, bila letak gugusan bintang Bima Sakti di arah A lalu kebetulan  ada seorang bayi lahir tepat pada malam ketika bintang itu terbit maka  diramalkan bayi itu akan menjadi orang terkenal setelah besar  nanti.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Apabila kita  perhatikan ramalan di atas, akan terlihat bahwa si peramal mencoba atau seolah-  olah mengetahui hal-hal ghaib. Seakan ia mampu membaca dan menentukan nasib  seseorang. Dengan dasar ini ia memerintah dan melarang pasiennya untuk berbuat  sesuatu. Bahkan ia sering menakut-nakutinya meskipun akhirnya memberi kabar  gembira atau hiburan dengan kata- kata manis. Bagi orang yang senang akan rubrik  seperti tersebut di atas atau yang suka membaca buku-buku astrologi  (ramalan-ramalan bohong) terkadang ramalan itu cocok dengan keadaan yang di  alami. Namun yang menjadi permasalahan, darimana pikiran peramal itu mencuat?  Bagaimana pandangan Islam terhadap masalah ini?</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Sesungguhnya  perkara-perkara ghaib hanyalah Allah yang mengetahui. Dan ini adalah hak  prerogatif Allah semata, selain makhluk yang Ia beritahukan tentangnya, seperti  sebagian Malaikat dan para Rasul sebagai mukjizat. Dalam hal ini, Allah  berfirman :</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">“(Dia adalah  Rabb) Yang mengetahui yang ghaib. Maka Dia tidak memperlihatkan kepada seseorang  pun tentang yang ghaib itu kecuali kepada Rasul yang diridlai-Nya. Maka  sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (Malaikat) di muka bumi dan di  belakangnya.” (QS. Al Jin : 26-27)</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Barangsiapa  mengaku mengetahui perkara atau ilmu ghaib selain orang yang dikecualikan  sebagaimana ayat di atas, maka ia telah kafir. Baik mengetahuinya dengan  perantaraan membaca garis-garis tangan, di dalam gelas, perdukunan, sihir, dan  ilmu perbintangan atau selain itu. Yang terakhir ini yang biasa dilakukan oleh  paranormal. Bila ada orang sakit bertanya kepadanya tentang sebab sakitnya maka  akan dijawab : “Saudara sakit karena perbuatan orang yang tidak suka kepada  saudara.” Darimana dia tahu bahwa penyebab sakitnya adalah dari perbuatan  seseorang, sementara tidak ada bukti-bukti yang kuat sebagai dasar tuduhannya?  Sebenarnya hal ini tidak lain adalah karena bantuan jin dan para syaithan.  Mereka menampakkan kepada khalayak dengan cara-cara di atas (melihat letak  bintang, misalnya) hanyalah tipuan belaka.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Syaikhul Islam  Ibnu Taimiyyah berkata : “Para dukun dan yang sejenis dengan mereka sebenarnya  mempunyai pembantu atau pendamping (qarin) dari kalangan syaithan yang  mengabarkan perkara-perkara ghaib yang dicuri dari langit. Kemudian para dukun  itu menyampaikan berita tersebut dengan tambahan kedustaan. Di antara mereka ada  yang mendatangi syaithan dengan membawa makanan, buah-buahan, dan lain-lain  (untuk dipersembahkan) … . Dengan bantuan jin, mereka ada yang dapat terbang ke  Makkah atau Baitul Maqdis atau tempat lainnya.” (Kitabut Tauhid, Syaikh Fauzan  halaman 25)</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Sungguh benar  kabar Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam mengenai syaithan yang mencuri  berita dari langit. Diceritakan dalam sebuah hadits :</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Tatkala Allah  memutuskan perkara di langit, para Malaikat mengepakkan sayap, mereka merasa  tunduk dengan firman-Nya, seolah-olah kepakan sayap itu bunyi gemerincing rantai  di atas batu besar. Ketika telah hilang rasa takut, mereka saling bertanya :  “Apakah yang dikatakan Rabbmu? Dia berkata tentang kebenaran dan Dia Maha Tinggi  lagi Maha Besar.” Lalu firman Allah itu didengar oleh pencuri berita langit.  Para pencuri berita itu saling memanggul (untuk sampai di langit), lalu  melemparkan hasil curiannya itu kepada teman di bawahnya. (HR. Bukhari dari Abi  Hurairah radliyallahu &#8216;anhu)</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Seorang dukun  atau paranormal yang memberitakan perkara-perkara ghaib sebenarnya menerima  kabar dari syaithan itu dengan jalan melihat letak bintang untuk menentukan atau  mengetahui peristiwa-peristiwa di bumi, seperti letak benda yang hilang, nasib  seseorang, perubahan musim, dan lain-lain. Inilah yang biasa disebut ilmu  perbintangan atau tanjim. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa  Sallam :</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">“ … Kemudian  melemparkan benda itu kepada orang yang di bawahnya sampai akhirnya kepada dukun  atau tukang sihir. Terkadang setan itu terkena panah bintang sebelum menyerahkan  berita dan terkadang berhasil. Lalu setan itu menambah berita itu dengan seratus  kedustaan.” (HR. Bukhari dari Abi Hurairah radliyallahu  &#8216;anhu)</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Meskipun  demikian, masih banyak orang yang mempercayai dan mau mendatangi peramal atau  astrolog atau para dukun, bukan saja dari kalangan orang yang berpendidikan dan  ekonomi rendahan bahkan dari orang-orang yang berpendidikan dan berstatus sosial  tinggi. Perbuatan orang yang mendatangi atau yang didatangi dalam hal ini para  dukun sama-sama mendapatkan dosa dan ancaman keras dari Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi  Wa Sallam berupa dosa syirik dan tidak diterima shalatnya selama 40  malam.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Nabi Shallallahu  &#8216;Alaihi Wa Sallam bersabda :</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">“Barangsiapa yang  mendatangi dukun dan menanyakan tentang sesuatu lalu membenarkannya, maka tidak  diterima shalatnya 40 malam.” (HR. Muslim dari sebagian istri Nabi Shallallahu  &#8216;Alaihi Wa Sallam)</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Pada kesempatan  lain, Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam juga mengancam mereka tergolong  orang-orang yang ingkar (kufur) dengan apa yang dibawa beliau Shallallahu  &#8216;Alaihi Wa Sallam :</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">“Barangsiapa yang  mendatangi dukun (peramal) dan membenarkan apa yang dikatakannya, sungguh ia  telah ingkar (kufur) dengan apa yang dibawa Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam.”  (HR. Abu Dawud)</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Ancaman dalam  hadits di atas berlaku untuk yang mendatangi dan menanyakan, baik membenarkan  atau tidak. (Syaikh Abdurrahman Alu Syaikh 1979)</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Tujuan Penciptaan  Bintang-Bintang</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Alam dan segala  isinya diciptakan dengan hikmah karena diciptakan oleh Dzat yang memiliki sifat  Maha Memberi Hikmah dan Maha Mengetahui. Dia Maha Mengetahui apa yang di depan  dan di balik ciptaan-Nya. Sehingga mustahil Allah mencipta makhluk dengan  main-main. Sebab itu, kewajiban atas makhluk-Nya ialah tunduk dan menerima  berita, perintah, dan larangan-Nya. Sebagai contoh, yang berhubungan dengan  pembahasan kali ini ialah penciptaan bintang-bintang di  langit.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Allah Subhanahu  wa Ta&#8217;ala memberitakan bahwa penciptaan bintang-bintang itu ialah untuk  penerang, hiasan langit, penunjuk jalan, dan pelempar setan yang mencuri wahyu  yang sedang diucapkan di hadapan para malaikat. Sebagaimana Dia firmankan  :</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">“Dan sungguh,  Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan  bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan.” (QS. Al Mulk :  5)</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Dalam kitab  Shahih Bukhari disebutkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala menciptakan bintang-  bintang itu untuk tujuan sebagai hiasan langit, alat pelempar setan, dan  rambu-rambu jalan. Maka barangsiapa mempergunakannya untuk selain tujuan itu,  sungguh terjerumus ke dalam kesalahan, kehilangan bagian akhiratnya, dan  terbebani dengan satu hal yang tak diketahuinya. (Perkataan dalam kitab Shahih  Bukhari di atas adalah ucapan Qatadah rahimahullah)</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Hukum Mempelajari  Ilmu Falak</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Para ulama  berbeda pendapat dalam menentukan hukum mempelajari ilmu perbintangan atau ilmu  falak (astrologi). Qatadah rahimahullah (seorang tabi’in) dan Sufyan bin Uyainah  (seorang ulama hadits, wafat pada tahun 198 H) mengharamkan secara mutlak  mempelajari ilmu falak. Sedangkan Imam Ahmad dan Ishaq rahimahullah  memperbolehkan dengan syarat tertentu. Menurut Syaikh Muhammad bin Abdil Aziz As  Sulaiman Al Qarawi &#8211;yang berusaha mengkompromikan perbedaan pendapat para ulama  di atas&#8211; bahwa mempelajarinya adalah :</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Pertama, kafir  bila meyakini bintang-bintang itu sendiri yang mempengaruhi segala aktivitas  makhluk di bumi. Ini yang pertama.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Kedua,  mempelajarinya untuk menentukan kejadian-kejadian yang ada, akan tetapi semua  itu diyakini karena takdir dan kehendak-Nya. Maka yang kedua ini hukumnya  haram.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Ketiga,  mempelajarinya untuk mengetahui arah kiblat, penunjuk jalan, waktu, menurut  jumhur ulama hal ini diperbolehkan (jaiz).</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Dari uraian di  atas dapat diketahui bahwa mengaku mengetahui ilmu ghaib menyebabkan pelakunya  kafir. Sedangkan mendatangi dukun dan bertanya kepadanya, hukumnya haram, baik  ia membenarkan atau tidak. Dan yang disebut dukun sekarang ini banyak  julukannya. Kadang ia disebut orang pintar atau paranormal, astrolog,  fortuneteller, atau yang lainnya. Walaupun begitu, hakikatnya sama saja.  Penggunaan julukan yang berbeda-beda hanyalah sebagai pelaris dagangan saja  (atau agar terkesan tidak ketinggalan jaman). Hal ini karena mempelajari ilmu  falak yang ditujukan untuk meramal nasib atau mengaku mengetahui ilmu ghaib  merupakan tindakan kekufuran. Tujuan penciptaan bintang adalah sebagaimana yang  telah diterangkan Allah dan para ulama, bukan untuk mengetahui perkara ghaib  seperti yang diyakini oleh sebagian besar astrolog. Ayat yang mengatakan  :</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">“Dan (Dia  ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka  (mendapat petunjuk).” (QS. An Nahl : 16)</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Maksudnya, agar  manusia mengetahui arah jalan dengan mengetahui letak bintang-bintang, bukan  untuk mengetahui perkara ghaib. Banyak hadits Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam  yang mengharamkan dan melarang mempelajari ilmu nujum (perbintangan) dengan  tujuan yang dilarang syariat, seperti hadits :</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">“Barangsiapa  mempelajari satu cabang dari cabang ilmu nujum (perbintangan) sungguh ia telah  mempelajari satu cabang ilmu sihir … .” (HR. Ahmad[1], Abu Dawud, dan Ibnu Majah  dari Ibnu Abbas)</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Sementara Islam  mengharamkan orang yang menyihir atau meminta sihir. Dan mengaku mengetahui ilmu  ghaib merupakan perkara yang membatalkan atau menggugurkan tauhid dan keimanan  orang karena menandingi Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala dalam sifat Rububiyah.  (Kitabut Tauhid, Syaikh Fauzan halaman 25)</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Wallahul  Musta’an.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">[1] Hadits hasan,  dihasankan oleh Syaikh Ibnu Alis Sinan dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani  dalam Shahihul Jami’ nomor 5950 dan dalam Ash Shahihah nomor  793.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">(SALAFY  XIX/1418/1997)</span></span></div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ahlussunnahcianjur.wordpress.com/16/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ahlussunnahcianjur.wordpress.com/16/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ahlussunnahcianjur.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ahlussunnahcianjur.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ahlussunnahcianjur.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ahlussunnahcianjur.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ahlussunnahcianjur.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ahlussunnahcianjur.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ahlussunnahcianjur.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ahlussunnahcianjur.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ahlussunnahcianjur.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ahlussunnahcianjur.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ahlussunnahcianjur.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ahlussunnahcianjur.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ahlussunnahcianjur.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ahlussunnahcianjur.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahlussunnahcianjur.wordpress.com&amp;blog=4312970&amp;post=16&amp;subd=ahlussunnahcianjur&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahlussunnahcianjur.wordpress.com/2008/07/25/bagi-yang-suka-ramalan-bintang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cfa858cff979385d6fcea4361ef8ecfa?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ahlussunnahcianjur</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Biografi Syaikh Ahmad bin Yahya an Najmi rahimahullah</title>
		<link>http://ahlussunnahcianjur.wordpress.com/2008/07/24/biografi-syaikh-ahmad-bin-yahya-an-najmi-rahimahullah/</link>
		<comments>http://ahlussunnahcianjur.wordpress.com/2008/07/24/biografi-syaikh-ahmad-bin-yahya-an-najmi-rahimahullah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jul 2008 10:00:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ahlussunnahcianjur</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahlussunnahcianjur.wordpress.com/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[Biografi Syaikh Ahmad bin Yahya an Najmi rahimahullah Penulis: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari Kedudukan ulama rabbani sangatlah tinggi dalam Dien yang mulia ini. Allah Ta&#8217;ala telah mengangkat derajat mereka dan memuji mereka dalam Tanzil-Nya. Demikian pula pujian datang lewat lisan Rasul-Nya dalam mutiara-mutiara hikmah yang beliau tuturkan. Dan tidak ada yang tahu kadar ulama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahlussunnahcianjur.wordpress.com&amp;blog=4312970&amp;post=4&amp;subd=ahlussunnahcianjur&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Biografi Syaikh Ahmad bin Yahya an Najmi rahimahullah</p>
<p>Penulis: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari</p>
<p>Kedudukan ulama rabbani sangatlah tinggi dalam Dien yang mulia ini. Allah Ta&#8217;ala telah mengangkat derajat mereka dan memuji mereka dalam Tanzil-Nya. Demikian pula pujian datang lewat lisan Rasul-Nya dalam mutiara-mutiara hikmah yang beliau tuturkan. Dan tidak ada yang tahu kadar ulama dan memuliakannya sesuai dengan apa yang berhak mereka dapatkan kecuali orang-orang yang mulia. Karena itu, sepantasnyalah bagi orang yang ingin mendapatkan kemuliaan untuk mengagungkan mereka lewat lisan dan tulisan, tidak melanggar kehormatan mereka dan tidak merendahkan mereka.</p>
<p>Telah datang ayat-ayat Quran, hadits-hadits nabawiyah dan atsar-atsar pilihan yang berisi larangan dari perbuatan tersebut. Satu dari ulama rabbani yang memiliki hak untuk kita muliakan adalah As-Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi, seorang alim yang sekarang menjadi mufti di daerah Jizaan. Salah seorang murid beliau, As-Syaikh Muhammad bin Hadi bin Ali Al-Madkhali menuturkan secara ringkas cerita hidup beliau sebagaimana dinukilkan dalam Ibrah kali ini. Semoga semangat ilmiah dan amaliyah beliau dapat menjadi ibrah bagi kita.</p>
<p>NAMA DAN NASAB BELIAU<br />
Beliau adalah Asy-Syaikh Al-Fadlil Al-Allamah, Al-Muhaddits, Al-Musnad, Al-Faqih, mufti daerah Jizaan, pembawa bendera sunnah dan hadits disana. As-Syaikh Ahmad bin Yahya bin Muhammad bin Syabir An-Najmi dari keluarga Syabir dari Bani Hummad, salah satu kabilah yang terkenal di daerah Jizaan.</p>
<p>Terlahir di Najamiyah pada tanggal 26 Syawwal 1346 hijriyah [wafat pada tanggal 19 Rajab 1429 H / 23 Juli 2008 pagi], beliau tumbuh dalam asuhan dua orang tua yang shalih. Keduanya bahkan bernadzar untuk Allah dalam urusan putranya ini, yaitu mereka berdua tidak akan membebani Ahmad An-Najmi kecil dengan satu pun dari pekerjaan dunia. Dan sungguh Allah telah merealisasikan apa yang diinginkan pasangan hamba-Nya ini.</p>
<p>Ayah dan ibu yang shalih ini menjaga beliau dengan sebaik-baiknya, sampai-sampai keduanya tidak meninggalkan beliau bermain bersama anak-anak yang lain. Ketika mencapai usia tamyiz, ayah dan ibu yang mulia ini memasukkan beliau ke tempat belajar yang ada di kampungnya. Disini beliau belajar membaca dan menulis. Demikian pula membaca Al-Qur`an, beliau pelajari disini sampai tiga kali sebelum kedatangan As-Syaikh Abdullah Al-Qar&#8217;aawii rahimahullah pada tahun 1358 hijriyah.</p>
<p>Pertama kali beliau membaca Al-Qur`an di bawah bimbingan As-Syaikh Abduh bin Muhammad Aqil An-Najmi tahun 1355 hijriyah. Kemudian beliau membacanya di hadapan As-Syaikh Yahya Faqih Absi -seorang yang berpemahaman Asy&#8217;ari- yang semula merupakan penduduk Yaman lalu datang dan bermukim di Najamiyah. Tahun 1358, As-Syaikh Ahmad An-Najmi masih belajar pada orang ini. Ketika datang As-Syaikh Abdullah Al-Qar&#8217;aawii terjadi perdebatan antara keduanya (antara As-Syaikh Yahya Faqih Absi dan As-Syaikh Al-Qar&#8217;aawii) dalam masalah istiwa. Dan Allah Ta&#8217;ala berkehendak untuk memenangkan Al-Haq hingga As-Syaikh Yahya yang Asy&#8217;ari ini kalah dan pada akhirnya meninggalkan Najamiyah.</p>
<p>SEKITAR KISAH BELIAU DALAM BELAJAR ILMU<br />
Pada tahun 1359, setelah perginya guru beliau yang berpemahaman Asy&#8217;ari, As-Syaikh Ahmad An-Najmi bersama kedua paman beliau, As-Syaikh Hasan dan As-Syaikh Husein bin Muhammad An-Najmi sering menjumpai As-Syaikh Abdullah Al-Qar&#8217;aawi di kota Shaamithah. Kemudian pada tahun berikutnya beliau masuk ke Madrasah As-Salafiyah. Dan pada kali ini beliau membaca Al-Qur`an dengan perintah As-Syaikh Abdullah Al-Qar&#8217;aawii rahimahullah di hadapan As-Syaikh Utsman bin Utsman Hamli rahimahullah. Beliau menghafal Tuhfatul Athfal, Hidayatul Mustafid, Ats-Tsalatsatul Ushul, Al-Arba&#8217;in An-Nawawiyah dan Al-Hisab. Beliau juga memantapkan pelajaran khath.</p>
<p>Di Madrasah As-Salafiyah, As-Syaikh Ahmad An-Najmi yang masih belia ini duduk di majlis yang ditetapkan oleh As-Syaikh Al-Qar&#8217;aawii sampai murid-murid kecil pulang ke rumah masing-masing setelah shalat dhuhur. Namun As-Syaikh Ahmad An-Najmi tidak ikut pulang bersama mereka. Beliau malah ikut masuk ke halaqah yang diperuntukkan bagi orang dewasa / murid-murid senior yang diajari langsung oleh As-Syaikh Al-Qar&#8217;aawii. Beliau duduk bersama mereka dari mulai selesai shalat dhuhur sampai datang waktu Isya. Setelah itu baru beliau kembali bersama kedua paman beliau ke kediamannya.</p>
<p>Hal demikian berlangsung sampai empat bulan hingga akhirnya As-Syaikh Al-Qar&#8217;aawii mengijinkan beliau untuk bergabung dengan halaqah kibaar ini. Di hadapan As-Syaikh Al-Qar&#8217;aawii beliau membaca kitab Ar-Rahabiyah dalam ilmu Fara&#8217;id, Al-Aajurumiyah dalam ilmu Nahwu, Kitabut Tauhid, Bulughul Maram, Al-Baiquniyah, Nukhbatul Fikr dan syarahnya Nuzhatun Nadhar, Mukhtasharaat fis Sirah, Tashriful Ghazii, Al-&#8217;Awaamil fin Nahwi Mi&#8217;ah, Al-Waraqaat dalam Ushul Fiqih, Al-Aqidah Ath-Thahawiyah dengan syarah / penjelasan dari As-Syaikh Abdullah Al-Qar&#8217;aawii sebelum mereka diajarkan Syarah Ibnu Abil &#8216;Izzi terhadap Aqidah Thahawiyah ini. Beliau juga mempelajari beberapa hal dari kitab Al-Alfiyah karya Ibnu Malik, Ad-Durarul Bahiyah dengan syarahnya Ad-Daraaril Mudliyah dalam fiqih karya Al-Imam Syaukani rahimahullah. Dan masih banyak lagi kitab lainnya yang beliau pelajari, baik kitab tersebut dipelajari secara kontinyu -sebagaimana kitab-kitab yang disebutkan di atas- maupun kitab-kitab yang digunakan sebagai perluasan wawasan dari beberapa risalah-risalah dan kitab-kitab kecil dan kitab-kitab yang dijadikan rujukan ketika diadakan pembahasan ilmiyah seperti Nailul Authar, Zaadul Ma&#8217;aad, Nurul Yaqin, Al-Muwatha&#8217; dan kitab-kitab induk (Al-Ummahat).</p>
<p>Pada tahun 1362 hijriyah, As-Syaikh Abdullah Al-Qar&#8217;aawii mengajarkan di halaqah kibar ini kitab-kitab induk yang ada di perpustakaan beliau seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abi Daud, Sunan Nasa&#8217;i dan Muwaththa&#8217; Imam Malik. Mereka yang membacakan kitab-kitab tersebut di hadapan beliau. Namun mereka tidak sampai menyelesaikan kitab-kitab tersebut karena mereka harus berpisah satu dengan lainnya disebabkan paceklik yang menimpa.</p>
<p>Dan dengan keutamaan dari Allah, pada tahun 1364 mereka dapat kembali ke tempat belajar mereka dan melanjutkan apa yang semula mereka tinggalkan. As-Syaikh Abdullah kemudian memberi izin kepada As-Syaikh Ahmad An-Najmi untuk meriwayatkan kitab induk yang enam (Al-Ummahat As-Sitt).</p>
<p>Waktu berjalan hingga sampai pada tahun 1369. Beliau berkesempatan untuk belajar kitab Ishlahul Mujtama&#8217; dan kitab Al-Irsyad ila Ma&#8217;rifatil Ahkam karya As-Syaikh Abdurrahman bin Sa&#8217;di rahimahullah dalam masalah fiqih yang disusun dalam bentuk tanya jawab. Dua kitab ini beliau pelajari dari As-Syaikh Ibrahim bin Muhammad Al-&#8217;Amuudi rahimahullah seorang qadli daerah Shaamith pada waktu itu. Beliau berkesempatan pula untuk belajar Nahwu pada As-Syaikh Ali bin Syaikh Utsman Ziyaad Ash-Shomaalii dengan perintah As-Syaikh Abdullah Al-Qar&#8217;aawii rahimahullah dengan membahas kitab Al-&#8217;Awwamil fin Nahwi Mi&#8217;ah dan kitab-kitab lainnya.</p>
<p>Tahun 1384, beliau hadir dalam halaqah Syaikh Al-Imam Al-&#8217;Allamah Mufti negeri Saudi Arabia As-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alus Syaikh rahimahullah selama hampir dua bulan untuk mempelajari tafsir dalam hal ini Tafsir Ibnu Jarir Ath-Thabari dengan pembaca kitab Abdul Aziz Asy-Syalhuub. Pada tahun yang sama beliau juga hadir dalam halaqah Syaikh Al-Imam Al-&#8217;Allamah As-Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah selama kurang lebih satu setengah bulan guna mempelajari Shahih Bukhari. Majelis yang terakhir ini diadakan antara waktu Maghrib dan Isya&#8217;.</p>
<p>GURU-GURU BELIAU<br />
Syaikh Ahmad An-Najmi memiliki beberapa orang guru sebagaimana bisa dibaca pada keterangan di atas. Guru-guru beliau adalah:<br />
1) As-Syaikh Ibrahim bin Muhammad Al-&#8217;Amuudi, seorang qadli di daerah Shaamithah pada zamannya.</p>
<p>2) As-Syaikh Hafidh bin Ahmad Al-Hakami</p>
<p>3) As-Syaikh Al-Allamah Ad-Da&#8217;iyah Al-Mujaddid di daerah selatan kerajaan Saudi Arabia Abdullah Al-Qar&#8217;aawii, beliau adalah guru yang paling banyak memberikan faedah kepada As-Syaikh Ahmad An-Najmi.</p>
<p>4) As-Syaikh Abduh bin Muhammad Aqil An-Najmi</p>
<p>5) As-Syaikh Utsman bin Utsman Hamli</p>
<p>6) As-Syaikh Ali bin Syaikh Utsman Ziyaad Ash-Shomaali</p>
<p>7) As-Syaikh Al-Imam Al-Allamah Mufti negeri Saudi Arabia yang dahulu, Muhammad bin Ibrahim Alus Syaikh.</p>
<p>8) As-Syaikh Yahya Faqih Absi Al-Yamani</p>
<p>MURID-MURID BELIAU<br />
As-Syaikh Ahmad An-Najmi hafidhahullah memiliki murid yang sangat banyak, seandainya ada yang mencoba menghitungnya niscaya ia membutuhkan ribuan lembaran kertas. Namun disini cukup disebutkan tiga orang saja yang ketiganya masyhur dalam bidang keilmuan. Mereka adalah:</p>
<p>1) As-Syaikh Al-Allamah Al-Muhaddits penolong Sunnah, As-Syaikh Rabi&#8217; bin Hadi Al-Madkhali.</p>
<p>2) As-Syaikh Al-Allamah Al-Faqih Zaid bin Muhammad Hadi Al-Madkhali.</p>
<p>3) As-Syaikh Al-Alim Al-Fadlil Ali bin Nashir Al-Faqiihi.</p>
<p>KECERDASAN BELIAU<br />
Allah Ta&#8217;ala menganugerahkan kepada beliau kecerdasan yang tinggi sekali. Berikut ini kisah yang menunjukkan kecerdasan dan kemampuan menghafal beliau sejak kecil -semoga Allah menjaga beliau-:</p>
<p>Berkata As-Syaikh Umar bin Ahmad Jaradii Al-Madkhali -semoga Allah memberi taufik kepada beliau-: &#8220;Tatkala As-Syaikh Ahmad An-Najmi hadir bersama kedua pamannya Hasan dan Husein An-Najmi di Madrasah As-Salafiyah di Shaamithah, tahun 1359 hijriyah, umur beliau saat itu 13 tahun namun beliau mampu mendengarkan dan memahami pelajaran-pelajaran yang disampaikan oleh As-Syaikh Abdullah Al-Qar&#8217;aawii kepada murid-murid seniornya. Dan beliau benar-benar menghafal pelajaran-pelajaran tersebut.&#8221;</p>
<p>Aku katakan (yakni As-Syaikh Muhammad bin Hadi bin Ali Al-Madkhali): &#8220;Inilah yang menyebabkan As-Syaikh Abdullah Al-Qar&#8217;aawii menggabungkannya pada halaqah kibaar yang beliau tangani sendiri pengajarannya. Beliau melihat bagaimana kepandaiannya, kecepatan hafalannya dan kecerdasannya.&#8221;</p>
<p>KESIBUKAN BELIAU DALAM MENYEBARKAN ILMU<br />
As-Syaikh Ahmad An-Najmi menyibukkan dirinya dengan mengajar di madrasah-madrasah milik gurunya As-Syaikh Al-Qar&#8217;aawii rahimahullah semata-mata karena mengaharapkan pahala. Pada tahun 1367 hijriyah beliau mengajar di kampungnya An-Najamiyah. Lima tahun kemudian (tahun 1372) beliau pindah ke tempat yang bernama Abu Sabilah di Hurrats. Disana beliau menjadi imam dan guru. Pada tahun berikutnya ketika dibuka Ma&#8217;had Ilmi di Shaamithah, beliau menjadi guru disana sampai tahun 1384 hijriyah. Saat itu beliau memutuskan untuk safar ke Madinah guna mengajar di Jami&#8217;ah Al-Islamiyah disana, namun ternyata beliau mendapat tugas yang lain sehingga beliau harus kembali ke daerah Jaazaan. Disini Allah menghendaki agar beliau menjadi seorang penasehat dan pemberi bimbingan, dan beliau menjalankan tugas beliau dengan sebaik-baiknya.</p>
<p>Tahun 1387, beliau mengajar di Ma&#8217;had Ilmi di kota Jazaan sesuai dengan permintaan beliau. Pada awal pengajaran tahun 1389 beliau kembali mengajar di Ma&#8217;had Shaamithah dan beliau tinggal disana sebagai guru hingga tahun 1410.</p>
<p>Sejak saat itu sampai ditulisnya biografi ini, beliau menyibukkan diri dengan mengajar di rumahnya dan di masjid yang berdekatan dengan rumah beliau serta di masjid-masjid lain dengan tetap menjalankan tugas beliau sebagai mufti.</p>
<p>Beliau -hafidhahullah- dengan semua aktifitas ilmiahnya telah menjalankan wasiat gurunya untuk terus mengajar dan menjaga / memperhatikan para pelajar, khususnya pelajar asing dan mereka yang terputus bekal / nafkahnya dalam penuntutan ilmu. Dan kita dapatkan beliau -semoga Allah menjaganya- memiliki kesabaran yang menakjubkan. Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan atas apa yang telah dia berikan kepada kita.</p>
<p>Dengan wasiat As-Syaikh Al-Qar&#8217;aawii juga, beliau terus melakukan pembahasan ilmiyah dan mengambil faedah, khususnya dalam ilmu hadits dan fiqih serta ushul ilmu hadits dan ushul fiqih, hingga beliau mencapai keutamaan dengannya melebihi teman-temannya. Semoga Allah memberkahi umur beliau dan ilmu beliau, dan semoga Allah memberi manfaat dengan kesungguhan beliau.</p>
<p>KARYA ILMIAH BELIAU<br />
Beliau banyak memiliki karya-karya tulis ilmiah, sebagiannya sudah dicetak dan sebagian lagi belum dicetak. Semoga Allah memudahkan dicetaknya seluruh karya beliau agar kemanfaatannya tersampaikan pada ummat. Di antara karya beliau:</p>
<p>1) Awdlahul Irsyad fir Rad &#8216;ala Man Abaahal Mamnuu&#8217; minaz Ziyaarah</p>
<p>2) Ta&#8217;sisul Ahkam Syarah Umdatul Ahkam, telah dicetak dari karya ini satu juz yang kecil / tipis sekali.</p>
<p>3) Tanzihusy Syari&#8217;ah &#8216;an Ibaahatil Aghaanil Khali&#8217;ah.</p>
<p>4) Risalatul Irsyaad ila Bayanil Haq fi Hukmil Jihaad.</p>
<p>5) Risalah fi Hukmil Jahri bil Basmalah</p>
<p>6) Fathur Rabbil Waduud fil Fatawa war Ruduud.</p>
<p>7) Al-Mawridul &#8216;Udzbuz Zalaal fiimaa Intaqada &#8216;ala Ba&#8217;dlil Manaahijid Da&#8217;wiyah minal &#8216;Aqaaid wal A&#8217;maal.</p>
<p>Dan masih banyak lagi dari tulisan-tulisan beliau yang bermanfaat yang beliau persembahkan untuk kaum muslimin, semoga Allah membalas beliau dengan sebaik-baik pahala dan semoga Allah menjadikannya bermanfaat bagi Islam dan muslimin.</p>
<p>Demikian akhir biografi beliau yang dapat kami haturkan pada para pembaca, walhamdulillah ***</p>
<p>[Biografi dalam bahasa Inggris diterjemahkan  Isma'eel Alarcon <a href="http://www.al-ibaanah.com/bios.php?BioID=18" target="_blank">http://www.al-ibaanah.com/bios.php?BioID=18</a> ]</p>
<p>(Diterjemahkan secara ringkas oleh Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari dari mukaddimah kitab Al-Mawridul &#8216;Udzbuz Zalaal fiimaa Intaqada &#8216;ala Ba&#8217;dlil Manaahijid Da&#8217;wiyah minal &#8216;Aqaaid wal A&#8217;maal, hal 3-10, dari tulisan Asy-Syaikh Muhammad bin Hadi bin Ali Al-Madkhali, murid syaikh Ahmad an Najmi, dosen Fakultas Hadits Universitas Islam Madinah. URL sumber <a href="http://darussalaf.org/myprint.php?id=630" target="_blank">http://darussalaf.org/myprint.php?id=630</a>)</p>
<p>dari : www.salafy.or.id</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ahlussunnahcianjur.wordpress.com/4/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ahlussunnahcianjur.wordpress.com/4/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ahlussunnahcianjur.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ahlussunnahcianjur.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ahlussunnahcianjur.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ahlussunnahcianjur.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ahlussunnahcianjur.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ahlussunnahcianjur.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ahlussunnahcianjur.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ahlussunnahcianjur.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ahlussunnahcianjur.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ahlussunnahcianjur.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ahlussunnahcianjur.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ahlussunnahcianjur.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ahlussunnahcianjur.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ahlussunnahcianjur.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahlussunnahcianjur.wordpress.com&amp;blog=4312970&amp;post=4&amp;subd=ahlussunnahcianjur&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahlussunnahcianjur.wordpress.com/2008/07/24/biografi-syaikh-ahmad-bin-yahya-an-najmi-rahimahullah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cfa858cff979385d6fcea4361ef8ecfa?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ahlussunnahcianjur</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dakwah Tauhid Dakwah yang Haq</title>
		<link>http://ahlussunnahcianjur.wordpress.com/2008/07/24/hello-world/</link>
		<comments>http://ahlussunnahcianjur.wordpress.com/2008/07/24/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jul 2008 09:28:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ahlussunnahcianjur</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Dakwah Tauhid Dakwah yang Haq Penulis: Syaikh Abdul Malik bin Ahmad Ramadhany Atau ada juga kelompok-kelompok dakwah yang menghabiskan waktunya untuk menyerang atau mengkritik pemerintah dengan tujuan memperbaiki masyarakat atau dengan cara politik untuk menghancurkan pemerintah dengan tanpa memperdulikan kerusakan aqidah para pengikutnya. Mengikhlaskan agama hanya untuk Allah ( Tauhid ) merupakan pokok ajaran agama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahlussunnahcianjur.wordpress.com&amp;blog=4312970&amp;post=1&amp;subd=ahlussunnahcianjur&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Dakwah Tauhid  Dakwah yang Haq</span></span></strong></p>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Penulis: Syaikh  Abdul Malik bin Ahmad Ramadhany</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Atau ada juga  kelompok-kelompok dakwah yang menghabiskan waktunya untuk menyerang atau  mengkritik pemerintah dengan tujuan memperbaiki masyarakat atau dengan cara  politik untuk menghancurkan pemerintah dengan tanpa memperdulikan kerusakan  aqidah para pengikutnya.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Mengikhlaskan  agama hanya untuk Allah ( Tauhid ) merupakan pokok ajaran agama islam, yang mana  karena hal tersebut inilah Allah menurunkan kitab-kitab-Nya serta mengutus para  Rasul, dan seluruh para Nabi menyerukan ( menda’wahkan ) hal ini serta berjihad  dengannya.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Allah Subhanahu  wa Ta’ala menyatakan dalam firman-Nya :</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">“Maka sembahlah  Allah dengan mengikhlaskan ( memurnikan ) agama ini.”</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">(QS. Az-Zumar :  2).</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Dalam firman-Nya  yang lain :</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">“Dan tidaklah  mereka diperintah kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan (  memurnikan ) agama ini bagi-Nya.” (QS. Al-Bayyinah : 5).</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Dan kedudukan  Tauhid itu ibarat pondasi pada sebuah bangunan.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Al Imam Ibnu  Qoyyim rahimahullah berkata : “Barang siapa yang ingin meninggikan bangunan,  maka wajib atasnya untuk menguatkan dan memantapkan pondasinya serta bersungguh-  sungguh untuk menfokuskan perhatian kepadanya, karena tingginya bangunan  tersebut tergantung pada kuat serta mantapnya pondasi itu. Maka amalan dan  tingkatan-tingkatannya adalah ( ibarat ) bangunan dan pondasinya adalah  keimanan. Maka orang yang bijaksana itu cita- citanya adalah membetulkan dan  memantapkan pondasi, adapun orang yang bodoh (adalah orang yang) mendirikan  bangunan tanpa adanya pondasi, sehingga tidak lama bangunannya akan  runtuh.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Allah Ta’ala  berfirman :</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">“Maka apakah  orang-orang yang mendirikan masjidnya di atas dasar takwa kepada Allah dan  keridhoan-Nya itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di  tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama kedalam neraka  jahanam ? Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang  dholim,”</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">(QS. At-Taubah :  109) .</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">(lihat keterangan  ini dalam kitab Al-Fawaid, hal 204).</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Aku (Syaikh Abdul  Malik Ramadhany) katakan : “Ayat ini turun tentang orang-orang munafik yng  membangun masjid untuk ditegakkan sholat di dalamnya. Akan tetapi ketika mereka  mengerjakan amalan yang agung serta mulia ini, hati mereka kosong dari  keikhlasan dan tidak bermanfat bagi mereka sedikitpun, bahkan mereka jatuh  kedalam neraka jahanam sebagaimana tersebut dalam ayat ini.” (lihat kitab Sittu  Duror, hal 13-14)”.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Al Imam Ibnul  Qoyyim menyatakan :</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">“Pondasi itu ada  dua hal :</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Pertama :  Benarnya pengenalan kepada Allah dan perintah-Nya serta nama-nama dan  sifat-sifat- Nya.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Kedua :  Memurnikan ketundukan kepada Allah dan Rasul-Nya, tidak kepada yang lainnya.  Maka ini adalah sekuat-kuatnya pondasi yang di gunakan seorang hamba untuk  bangunannya.”</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Ketika Tauhid itu  ibarat pondasi bagi sebuah bangunan dan akar dari sebuah pohon, maka perintah  pertama yang kita jumpai ketika kita membuka Al-Qur’an dari awal adalah firman  Allah Ta’ala :</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">“Wahai manusia  beribadahlah kepada Rabb kalian yang menciptakan kalian dan orang-orang sebelum  kalian agar kalian menjadi orang-orang yang bertakwa.”</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">(QS. Al Baqarah :  21).</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Kemudian setelah  ayat ini langsung diikuti dengan larangan dari apa-apa yang menentang Tauhid,  yakni syirik. Allah berfirman :</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">“Maka janganlah  kalian jadikan tandingan-tandingan (sekutu) bagi Allah sedangkan kalian  mengetahuinya “ (QS. Al Baqarah : 22).</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Di sini terdapat  faedah yang besar, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak hanya memerintahkan  kepada kita untuk beribadah kepada-Nya, akan tetapi Allah melarang kita dari  apa-apa yang membatalkan hal tersebut, yaitu beribadah kepada selain-Nya  (syirik). Maka lihatlah di dalam Al Qur’an, kita akan menjumpai hukum yang  berturut-turut, diantaranya firman Allah :</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">“Sembahlah Allah  dan janganlah kalian menyekutukan dengan selain-Nya,”</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">(QS. An-Nisa :  36).</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Dalam firman-Nya  yang lain :</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">“Dan sungguh kami  tidak mengutus seorang Rasul pada setiap ummat (untuk menyeru) “sembahlah Allah  dan jauhilah taghut.”</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">(QS. An-Nahl :  36).</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Syaikh Mubarok  Al-Mily berkata : “Tidak cukup di dalam dua kalimat syahadat dengan semata  bertauhid saja, sampai dia meniadakan berbagai macam sesembahan yang lain dan  membatasi syari’at ini hanya pada seseorang yang di utus untuk menyampaikan  agama ini (yaitu Rasulullah shalallahu wa sallam).</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Syirik adalah  perbuatan haram nomor satu yang di larang oleh Allah Ta’ala sebagaimana  dinyatakan dalam firman-Nya :</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">“Katakanlah  (wahai Muhammad), “marilah kalian, akan aku bacakan apa saja yang di haramkan  oleh Rabb kalian atas kalian, yaitu janganlah kalian menyekutukan-Nya dengan  sesuatu apapun…”</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">(QS. Al-An’am :  151).</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Dan wasiat petama  yang di wasiatkan oleh Luqman Al-Hakkim kepada putranya adalah  :</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">“Wahai anakku,  janganlah kamu menyekutukan Allah (syirik) itu adalah kedholiman yang sangat  besar. “ (QS. Luqman : 13).</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Dalam Tauhid itu  adalah wasiat para Nabi ketika akan menghadapi kematian.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Allah Ta’ala  berfirman :</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">“Adakah kami  hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) kematian, ketika itu ia berkata  kepada anaknnya “Apakah yang kalian sembah sepeninggalku ? “Mereka menjawab :  “Kami akan menyembah tuhanmu dan tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail, dan  Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa, dan kami hanya tunduk patuh  kepada-Nya.”</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">(QS. Al-Baqarah :  133)</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Oleh karena itu,  para da’i yang mengajak untuk bertauhid adalah seutama-utama da’i, karena dakwah  tauhid adalah dakwah yang menyeru kepada derajat iman yang paling tinggi.  Sebagaimana di nyatakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam  :</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">“Iman itu ada  tujuh puluh atau enam puluh lebih cabang yang paling utama adalah kalimat Laa  ilaha illallah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan.  Dan malu adalah salah satu cabang keimanan.” (HR. Muslim).</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Imam An-Nawawi  rahimahullah menyatakan :</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">“Rasulullah telah  mengingatkan bahwa cabang keimanan yang paling utama adalah Tauhid yang wajib  atas setiap orang (untuk mengetahui ) dan tidak sah sesuatu pun dari  cabang-cabang tersebut kecuali setelah benarnya Tauhid,” (lihat kitab Syarah  Shohih Muslim jilid 1, hal 20).</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Aku (Syaikh Abdul  Malik Ramadhany) katakan :</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">“Akan tetapi  cabang-cabang keimanan ini tidak akan tumbuh dalam hati seseorang dan tidak akan  berbuah pada anggota badannya kecuali sesuai dengan (seberapa jauh makna)  kalimat thoyyibah ini di laksanakan oleh seorang hamba.”</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Hal ini di  karenakan bagusnya hati pada jasad. Dalam sebuah hadist dari An-Nu’man bin  Basyir radhiayallahu’anhu, bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda :</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">“Sesungguhnya di  dalam tubuh seseorang itu terdapat segumpal daging, Jika ia baik, maka akan  baiklah seluruh anggota tubuh. Jika ia rusak, maka akan rusaklah seluruh anggota  tubuh. Ketahuilah, dia itu adalah hati.” (HR.  Bukhori-Muslim).</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Di dalam hadits  ini terdapat dalil yang jelas bahwa memperbaiki Tauhid adalah pokok segala  kebaikan dan perkara yang paling agung. Oleh karena itu seluruh dakwah yang  menyerukan kepada kebaikan yang tidak memusatkan pada urusan Tauhid, akan  mengalami penyelewengan (penyimpangan) sesuai dengan jauhnya dia dari pokok yang  mulia ini, yaitu Tauhid.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Seperti mereka  (kelompok-kelompok dakwah) yang menghabiskan waktunya untuk memperbaiki hubungan  sesama manusia tetapi hubungan dengan Allah (yaitu perkara Aqidahnya) tidak  sesuai dengan tuntunan salafus shalih.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Atau ada juga  kelompok-kelompok dakwah yang menghabiskan waktunya untuk menyerang atau  mengkritik pemerintah dengan tujuan memperbaiki masyarakat atau dengan cara  politik untuk menghancurkan pemerintah dengan tanpa memperdulikan kerusakan  aqidah para pengikutnya.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Atau ada juga  mereka (kelompok-kelompok dakwah) yang dalam dakwahnya tidak memperhatikan dan  tidak memulai dakwahnya pada Tauhid dengan anggapan bahwa Tauhid itu akan  memecah belah umat, atau umat akan lari darinya, atau juga dengan anggapan bahwa  masyarakat sudah paham semua tentang Tauhid sehingga mereka dengungkan  (dakwahkan) setiap saat adalah bagaimana membentuk daulah Islam (Negara  Islam).</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Apakah mereka  tidak mendengar do’a Nabi Ibrahim alaihis salam yang mana beliau kuatir terjatuh  dalam kesyirikan, beliau berdo’a :</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">“Wahai Tuhanku,  jadikanlah negeri kami ini negeri yang aman, serta jauhkanlah aku dan anak  keturunanku dari penyembahan kepada patung-patung (berhala). Wahai Tuhanku,  sesungguhnya mereka (berhala-berhala itu) telah menyesatkan mayoritas manusia. “  (QS. Ibrahim : 35-36).</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Oleh karena itu  Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menekankan kepada para da’i agar  mementingkan masalah tauhid serta memulai dakwahnya dengan tauhid itu.  Sebagaimana di riwayatkan dalam sebuah hadist dari Ibnu Abbas radhiyallahu  anhuma bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Mu’adz bin  Jabal ketika dia di utus ka Yaman :</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">“Sesungguhnya  kamu akan mendatangi suatu kaum dari ahli kitab. Maka jika kamu datang kepada  mereka, jadikanlah pertama kali yang kamu dakwahkan kepada mereka adalah  “beribadahlah kalian kepada Allah (Dalam riwayat yang lain : “Agar kalian  mentauhidkan Allah). “</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">(HR. Bukhori-  Muslim).</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Oleh karena itu  awalilah dakwah yang kita lakukan ini dengan dakwah tauhid sebagaimana yang di  perintahkan oleh Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam.Wallahu A’lamu  bishshowwab.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Maraji’ : Kitab  Sittu Durar min Ushuli Ahlil Atsar, karya Syaikh Abdul Malik bin Ahmad  Ramadhany, di terjemahkan oleh Ustadz Muhammad Irfan.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Sumber : BULETIN  DAKWAH AT-TASHFIYYAH, Surabaya EDISI : 02 / SYAWAL / 1424</span></span></div>
<div></div>
<div>Dari : www.darussalaf.or.id</div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ahlussunnahcianjur.wordpress.com/1/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ahlussunnahcianjur.wordpress.com/1/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ahlussunnahcianjur.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ahlussunnahcianjur.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ahlussunnahcianjur.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ahlussunnahcianjur.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ahlussunnahcianjur.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ahlussunnahcianjur.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ahlussunnahcianjur.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ahlussunnahcianjur.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ahlussunnahcianjur.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ahlussunnahcianjur.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ahlussunnahcianjur.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ahlussunnahcianjur.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ahlussunnahcianjur.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ahlussunnahcianjur.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahlussunnahcianjur.wordpress.com&amp;blog=4312970&amp;post=1&amp;subd=ahlussunnahcianjur&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahlussunnahcianjur.wordpress.com/2008/07/24/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cfa858cff979385d6fcea4361ef8ecfa?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ahlussunnahcianjur</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
